Makruh mengusap kerikil dan meratakan pasir saat salat
- Hadis riwayat Mu’aiqib Radhiyallahu’anhu: Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah menjelaskan masalah mengusap kerikil kecil dalam mesjid dan bersabda: Jika engkau memang harus melakukannya, maka sekali saja. (Shahih Muslim No.849)
Larangan meludah dalam mesjid saat salat atau lainnya
- Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya. Setelah itu beliau berpaling kepada para sahabat dan bersabda: Bila salah seorang dari kalian tengah melakukan salat, janganlah ia meludah ke arah depannya, karena sesungguhnya Allah berada di depannya saat ia sedang salat. (Shahih Muslim No.852)
- Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam melihat ingus di kiblat mesjid, lalu beliau menggosok (bersihkan) dengan batu kerikil. Setelah itu beliau melarang meludah ke kanan atau ke depannya. Tetapi memperbolehkan meludah ke kiri atau di bawah telapak kakinya yang sebelah kiri. (Shahih Muslim No.853)
- Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah melihat ingus (ludah atau dahak) pada dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya (membersihkannya). (Shahih Muslim No.854)
- Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian sedang melakukan salat, maka sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya, oleh karena itu janganlah meludah ke depan atau ke kanannya, melainkan ke bawah telapak kaki kirinya. (Shahih Muslim No.856)
Boleh mengenakan alas kaki atau sandal dalam salat
- Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: Dari Said bin Yazid Al-Azdiyi, ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah salat dengan mengenakan alas kaki? Anas menjawab: Pernah. (Shahih Muslim No.862)
Makruh mengenakan pakaian bergambar makhluk dalam salat
- Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam pernah melakukan salat dengan mengenakan pakaian wol yang bergambar. Kemudian beliau bersabda: Aku merasa terganggu dengan gambar-gambar baju ini. Bawalah baju ini kepada Abu Jahem dan ambilkan untukku Pakaian biasa yang tidak bergambar. (Shahih Muslim No.863)
Salat saat makanan telah dihidangkan adalah makruh
- Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, beliau bersabda: Apabila santapan malam telah dihidangkan dan salat telah siap dilaksanakan, maka makanlah terlebih dahulu. (Shahih Muslim No.866)
- Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apabila santapan malam salah seorang dari kalian telah dihidangkan dan salat siap dilaksanakan, maka mulailah dengan makan terlebih dahulu. Dan janganlah ia tergesa-gesa hingga ia selesai menyantapnya. (Shahih Muslim No.868)
Larangan mendatangi mesjid dengan bau yang tidak enak seperti bau bawang atau makanan lainnya yang mempunyai bau tidak sedap
- Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dalam perang Khaibar pernah bersabda: Barang siapa makan buah ini (bawang putih), maka janganlah ia memasuki mesjid. (Shahih Muslim No.870)
- Hadis riwayat Anas Radhiyallahu’anhu: Bahwa Dia pernah ditanya tentang bawang putih. Anas menjawab: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah bersabda: Barang siapa yang makan pohon ini (bawang putih), maka janganlah ia dekat-dekat kami dan jangan ia ikut salat bersama kami. (Shahih Muslim No.872)
- Hadis riwayat Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melarang makan bawang merah dan bawang bakung. Suatu saat kami butuh sekali sehingga kami memakannya. Beliau bersabda: Barang siapa yang makan pohon tidak sedap ini, janganlah ia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya para malaikat akan merasa sakit (karena aromanya) seperti halnya manusia. (Shahih Muslim No.874)
- Hadis riwayat Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku tidak pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tentang suatu masalah sebagaimana aku bertanya tentang Kalalah (yaitu seorang yang mati tanpa meninggalkan ayah atau anak), ia adalah suatu masalah yang selalu aku minta pertimbangan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam Sungguh aku memang sangat menaruh perhatian besar terhadap masalah satu ini, sekalipun ada orang yang merasa tidak suka dan akan menancapkan jari-jarinya ke dadaku seraya berkata: Wahai Umar, tidakkah cukup bagimu ayat kemarau yang terdapat pada akhir surat An-Nisa? Sesungguhnya, bila aku masih diberi usia panjang, aku akan tetap mengadili berdasarkan Alquran. Aku akan berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku minta Engkau menjadi saksi atas para pemimpin Mesir. Sesungguhnya aku mengutus mereka agar mereka dapat berlaku adil terhadap manusia, mengajarkan agama mereka dan sunah nabi mereka, Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, membagi harta rampasan tanpa perang mereka dan mengadukan kepadaku masalah mereka yang pelik bagi mereka. Kemudian wahai manusia, sungguh kalian suka makan dua pohon yang menurutku adalah pohon yang jelek, yakni bawang merah dan bawang putih. Aku menyaksikan sendiri Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ketika mencium bau dua pohon itu dari seseorang di mesjid, beliau menyuruh orang itu keluar ke Baqi. Barang siapa yang ingin makan, maka hendaklah dimasak lebih dahulu. (Shahih Muslim No.879)
Lupa dalam salat dan sujud sahwi
- Hadis riwayat Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam salat dua rakaat bersama kami, kemudian beliau bangkit dan tidak duduk. para sahabat lain pun ikut bangkit bersama beliau. Ketika beliau hendak menyelesaikan salatnya dan kami menunggu salamnya, beliau malah membaca takbir lalu melakukan sujud dua kali sedang beliau masih dalam keadaan duduk sebelum salam. Kemudian beliau salam. (Shahih Muslim No.885)
- Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam salat (dan menurut Ibrahim, beliau terlebih atau kurang jumlah rakaat). Ketika selesai salam, ada yang berkata: Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi sesuatu ketika baginda salat. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apa itu? Mereka menjawab: Baginda melakukan salat begini, begini. Seketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melipatkan kedua kakinya dan menghadap kiblat, melakukan sujud dua kali dan salam. Kemudian beliau berpaling kepada kami seraya bersabda: Seandainya terjadi sesuatu dalam salat, maka aku akan menerangkannya kepadamu. Tetapi aku adalah manusia biasa yang dapat lupa seperti halnya engkau. Apabila aku lupa, maka ingatkanlah aku. Apabila salah seorang engkau merasa ragu-ragu dalam salatnya, maka berusahalah mencari dan meyakini yang benar, lalu sempurnakan. Selanjutnya hendaknya ia melakukan sujud dua kali. (Shahih Muslim No.889)
- Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengimami kami pada salat sore, Asar atau Zuhur. Pada rakaat kedua beliau telah salam. Kemudian beliau mendekati sebuah batang pohon di kiblat mesjid dan bersandar di sana. Di antara makmum terdapat Abu Bakar dan Umar. Namun keduanya tidak berani bicaRadhiyallahu’anhu Sementara sahabat-sahabat lain cepat keluar karena salat amat pendek. Lalu berdirilah Dzul Yadain dan berkata: Wahai Rasulullah, apakah salat tadi diqasar atau baginda lupa? Sejenak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memandang Dzul Yadain lalu menengok kanan kiri dan bertanya: Apa yang ditanyakan Dzul Yadain? Sahabat-sahabat yang lain menjawab: Benar apa katanya. Anda hanya salat dua rakaat. Seketika Rasulullah bangun dan salat dua rakaat lalu salam. Beliau membaca takbir kemudian sujud. Membaca takbir lalu bangkit. Membaca takbir lagi dan sujud. Membaca takbir lalu bangkit. (Shahih Muslim No.896)


0 comments:
Post a Comment