Imam
Asy-Syathibiy berkata dalam kitab Al-Muwafaqat : Kata "As-Sunnah" itu
dipakai juga untuk nama bagi segala apa yang tidak diterangkan di dalam
Al-Qur'an, baik menjadi keterangan bagi isi Al-Qur'an ataupun tidak. Dan dipakai
juga sebagai lawannya "bid'ah". Seperti dikatakan, "Si Fulan itu
berada pada sunnah". Yakni : ia mengerjakan perbuatan yang sesuai dengan apa
yang dikerjakan oleh Nabi SAW, baik pekerjaan itu ada nash-nya di dalam
Al-Qur'an ataupun tidak. Dan seperti dikatakan juga : "Si Fulan dalam
bid'ah". Yakni : Apabila ia telah mengerjakan pekerjaan yang berlawanan atau
menyalahi perbuatan yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW.
Selanjutnya
Asy-Syathibi berkata, "Dan kata "sunnah" ini dipakai juga menjadi nama bagi
pekerjaan atau perbuatan para shahabat Nabi, baik pekerjaan itu terdapat dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah ataupun tidak. Karena adanya pekerjaan tersebut dengan
mencontoh "sunnah", atau karena ijtihad mereka dengan disepakati para khalifah
mereka, yang dikala itu tidak dibantah oleh seorangpun dari mereka. Pemakaian
isthilah ini disandarkan atas sabda Nabi SAW yang bunyinya
:
فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيّيْنَ.
الدارمى 1: 45
"Maka
hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang
rasyidin yang mengikuti petunjuk". [HR.
Darimiy juz 1, hal. 45, no. 93].
Fungsi
As-Sunnah/Al-Hadits
Telah
diketahui dan diyakini oleh segenap ummat Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW itu
diutus sebagai "muballigh" dari Allah SWT. Firman Allah yang menunjukkan
demikian, antara lain :
ياَيُّهَا
الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ.
المائدة:67
"Hai
Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu".
[QS. Al-Maidah : 67].
Dan
juga sebagai "mubayyin" (yang menerangkan) tentang yang dikehendaki oleh
Allah, sebagaimana dinyatakan dengan firman-Nya :
وَاَنْزَلْنَآ
اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيّنَ لِلنَّاسِ
مَا نُزّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ.
النحل: 44
Dan
Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muham-mad), supaya kamu
menerangkan kepada segenap manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Dan supaya
mereka memikirkan. [QS.
An-Nahl : 44].
Sehubungan
dengan itu maka Nabi Muhammad SAW menerangkan Al-Qur'an itu ada kalanya dengan
perbuatan, adakalanya dengan perkataan, adakalanya dengan iqrar, dan adakalanya
dengan perbuatan dan perkataan. Seperti urusan perintah shalat, beliau
mengerjakan dan memerintahkannya, dengan sabdanya :
صَلُّوْا
كَمَا رَأَيْتُمُوْنِى أُصَلّى.
البخارى ومسلم
"Shalatlah
kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat". [HR
Bukhari - Muslim]
Beliau
mengerjakan ibadah hajji dan bersabda :
قَدْ
فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ اْلحَجَّ فَحُجُّوْا.
احمد و مسلم و النسائى
"Allah
telah mewajibkan kepada kamu sekalian hajji, maka berhajjilah"
. [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai].
Dengan
ini jelaslah bahwa "sunnah" itu yang menerangkan isi Al-Qur'an,
menjelaskan kesimpulannya, membatasi muthlaqnya dan menguraikan
kemusykilan (kesulitan)nya. Maka dari itu tidak ada sesuatu yang terdapat
di dalam sunnah, melainkan Al-Qur'an telah menunjukkan-nya dengan petunjuk yang
singkat ataupun yang panjang; secara ijmali maupun
tafshili.
Dan
di antaranya ada yang umum sekali maksudnya, yaitu ayat yang memerintahkan kita
(ummat Islam) mengikut Rasulullah SAW seperti ayat :
وَمَا
اتكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهيكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا.
الحشر:7
"Dan
apa-apa yang telah didatangkan Rasul kepadamu, maka ambillah dia; dan apa yang
kamu telah dicegah mengerjakannya, maka tinggalkanlah".
[QS. Al-Hasyr : 7].
Imam
Sya-Syathibiy berkata di dalam Kitab Al-Muwafaqat, "Urutan "sunnah" itu ada di
bawah atau di belakang Al-Qur'an. Adapun keterangannya sebagai berikut
:
Pertama,
karena Al-Qur'an itu diyakini kebenarannya dengan tegas, sedang As-Sunnah
kebenarannya masih di dalam dhann (persangkaan kuat). Jelasnya :
Al-Qur'an itu dari segi ketetapan dan kenyataannya adalah diyakini
kedatangannya, sedang As-Sunnah itu kebanyakan dari dhan, kecuali yang
bertingkatan mutawatir. Oleh sebab itu, yang diyakini dengan tegas harus
didahulukan daripada yang
madhnun. Dengan demikian maka wajiblah mendahulukan Al-Qur'an
daripada As-Sunnah.
Kedua,
As-Sunnah itu adakalanya untuk menjadi keterangan bagi Al-Qur'an, dan ada
kalanya untuk menambah keterangan saja. Maka dengan sendirinya As-Sunnah
terkemudian dari Al-Qur'an. Yakni : Yang menerangkan itu terkemudian dari yang
diterangkan. Maka jika ia (sunnah) menjadi keterangan, tentu saja ia menjadi
yang kedua sesudah yang diterangkan. Dengan ini menunjukkan pula, bahwa
Al-Qur'an harus didahulukan.
Ketiga,
beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan demikian, antara lain seperti hadits
Rasulullah SAW ketika mengutus shahabat Mu'adz RA. untuk menjadi pemimpin agama
di negeri Yaman, dia ditanya oleh Rasulullah SAW :
قَالَ:
بِمَ تَحْكُمُ ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَمْ تَجِدْ ؟ قَالَ:
بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ
لَمْ تَجِدْ ؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى.
الموفقات4: 6
Nabi
SAW bertanya : "Dengan apa engkau menghukumi ?" Jawab Mu'adz : "Dengan Kitab
Allah". Nabi SAW berkata : "Jikalau tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz : "Dengan
sunnah Rasulullah". Tanya Nabi SAW : "Jika tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz :
"Saya berijtihad dengan fikiran saya".
[Al-Muwafaqaat 4 : 6]
Khalifah
Umar bin Khaththab RA pernah mengirim surat
kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :
اِذَا
اَتَاكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتَاكَ مَا لَيْسَ فِى
كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص. .
الموفقات4: 6
"Apabila
datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab
Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka
hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah SAW".
[Al-Muwafaqaat 4 : 6]
Berkenaan
dengan kedudukan sunnah Rasul SAW ini, Imam Syafi'i berkata
:
كُلُّ
مَا حَكَمَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ ص فَهُوَ ِممَّا فَهِمَهُ مِنَ
اْلقُرْآنِ.
"Segala
apa yang telah dihukumkan oleh Rasulullah SAW itu, semuanya dari apa-apa yang
difahamkannya dari Al-Qur'an".
Dan
juga beliau berkata :
وَ
جَمِيْعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ
لِلْقُرْآنِ.
"Dan
semua sunnah itu adalah penjelasan bagi Al-Qur'an".
Dalam
kitab "Ar-Risalah", Imam Asy-Syafi'i dengan panjang lebar menguraikan
tentang keterangan dan kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur'an yang kesimpulannya
sebagai berikut :
1. As-Sunnah menjadi Bayan Tafshil,
keterangan yang menjelaskan ayat-ayat yang mujmal
(ringkas).
2. As-Sunnah menjadi Bayan Takhshish,
yaitu keterangan yang menentukan sesuatu dari yang umum.
3. As-Sunnah menjadi Bayan Ta'yin, yaitu
keterangan yang menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga macam
kemungkinan pengertian.
4. Di samping itu kadang-kadang As-Sunnah
mendatangkan suatu hukum yang tidak didapati pokoknya di dalam
Al-Qur'an.
5. Dan dengan As-Sunnah itu dapat dijalankan
dalil untuk nasikh-mansukh. Yakni : Menentukan mana ayat yang
nasikh dan mana yang dimansukhkan dari ayat-ayat yang kelihatannya
berlawanan.

0 comments:
Post a Comment